Catatan Guru Drama

notes of my thoughts

Menjadi Anak Wayang…

on July 7, 2014
Raja Ranujaya berterima kasih atas bantuan Raden Inu Kertapati. -Wayang Senggol, GKJ-

Raja Ranujaya berterima kasih atas bantuan Raden Inu Kertapati. -Wayang Senggol, GKJ-

Sejak awal ramadhan tahun lalu 1434H, Deden Rengga seorang dosen yang sudah cukup akrab menelpon dan mengajak saya untuk terlibat dalam sebuah proses kreatif teater. Tanpa pikir panjang segera bilang, “Iya! Saya akan hadir dan bergabung.” Yang kemudian ternyata kami akan mengerjakan sebuah proses rekonstruksi pementasan sebuah bentuk pementasan yang pernah ada di Batavia, yaitu Wayang Senggol. Kenapa Batavia? Ya karena menurut data yg ada, bentuk pementasan teater ini terakhir kali dipentaskan pada tahun dimana Nama Jakarta belum dikenal, 1930-an.

Ini adalah kerja kreatif pertama saya dengan Deden Rengga. Proses kreatif benar-benar dipimpin olehnya dengan gaya yang jauh berbeda dengan saya. Sebuah kerja kreatif yang benar-benar lepas. Kerja kreatif yang melibatkan berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda. Ada Sutradara pemenang Festival Teater Jakarta, Dadang Badoet, ada koreografer yang juga guru tari handal, Pemila Sari, ada dosen bahasa inggris di sebuah perguruan tinggi swasta, para mahasiswa tari, penggiat teater dan pemusik. Di kerja kreatif Wayang Senggol ini pula kali pertama saya setelah tahun 2003 kembali jadi aktor. Bukan menulis naskah, bukan menyutradarai. Sebuah rasa kangen yang akhirnya terlepaskan.

Walau harus berjibaku dengan ketatnya jadwal mengajar dan jadwal jemput istri, saya dengan senang hati memaksakan untuk tetap hadir setelat apapun tiba di studio Jurusan Tari UNJ. Ini sebuah proses yg diperjuangkan, makanya sejak awal saya jadi ikut termotivasi untuk melakukan riset individu soal Wayang Senggol. Ini yang menarik, karena pada akhirnya saya menemukan bahwa Wayang Senggol bukanlah bentuk teater tradisi yang asli, karena tata panggung dan teknik pentasnya sudah kental teater gaya barat yg modern.  Mulai dengan tempat pementasannya yang proscenium, musik yang menjadi bagian dari pementasan, bukan sekedar pengiring. Banyak hal yang kemudian saya pribadi menyimpulkan bahwa Wayang Senggol bukan Teater Tradisi murni. Wayang senggol adalah hasil dari akulturasi berbagai macam gaya dan teknik pementasan yang ada di Batavia pada saat itu. Ada unsur Tionghwa, ada unsur Barat, ada unsur Timur Tengah, ada unsur Jawa. Wayang senggol benar-benar mencerminkan Batavia pada saat itu dan saat ini, sebagai bukti akulturasi dan eksistensi bermacam suku bangsa dan budaya di Kota pelabuhan di Utara jawa ini.

Dan saya bersyukur menjadi bagian dari proses kreatif Wayang Senggol.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: