Catatan Guru Drama

notes of my thoughts

Penangsang

on June 19, 2012

Image

Haryo Penangsang, seorang pemuda keturunan Raden Fatah, yang terlahir ketika sang ayah, Adipati Jipang-Panolang, Pangeran Sekar tewas akibat dianggap memberontak terhadap Kesultanan Demak Bintara. Haryo Penangsang di rawat sejak kecil oleh sang Patih, Ronggo Matahun yang telah berjanji kepada Pangeran Sekar untuk menjaga anaknya. Setelah umur 10 tahun, Haryo Penangsang di kirim ke Panti Kudus, untuk belajar berbagai macam ilmu, termasuk pendalaman ilmu agama, dibawah bimbimbingan Sunan Kudus.

Ketika sudah sepuluh tahun menimba ilmu di Panti Kudus, Haryo Penangsang, kembali ke Jipang Panolang, untuk melanjutkan tugas sang Ayah, menjadi Adipati. Berkat ilmu-ilmu yang dipelajari di Panti Kudus, serta ilmu pemerintahan bimbingan Sang Patih, Haryo Penangsang berhasil membangun Kadipatennya menjadi Sejahtera, Makmur dan Kuat. Penangsang juga terus membuktikan diri kepada Kesultanan Demak Bintara, perihal kesetiaan dia dan Kadipatennya sebagai daerah bawahan Demak.

Penangsang sadar, bahwa dia hidup di bawah bayang-bayang sang Ayah yang dianggap pemberontak karena ingin melawan keputusan Dewan Wali tentang pengangkatan Sultan Trenggono. Sang Ayah yang di cap sebagai orang yang haus kekuasaan. Oleh karena itu dia berusaha sebaik mungkin untuk membuktikan bahwa dirinya berbeda dengan sang Ayah. Bahwa dirinya lebih baik, dan tetap setia kepada Kesultanan Demak, siapapun yang menjadi Sultan.

Goro-goro politik yang dialami Penangsang, dimulai sejak meninggalnya Sultan Trenggono yang tidak lain adalah pamannya sendiri, ketika anak-anak Sultan Trenggono merasa paling berhak mewarisi Tahta Kesultanan Demak, dan ketika ada penyusup yang diam-diam menebar hasutan serta fitnah demi Kekuasaan. Penangsang berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlibat dalam goro-goro ini.

Cerita ini di kisahkan dari sudut pandang Haryo Penangsang, sebuah tafsir ulang atas sejarah kepahlawanan HAryo Penangsang dan Keruntuhan Kesultanan Demak yang Terinspirasi dari  Sebuah Novel Karya Nassirun Purwokartun “PENANGSANG, Tembang Rindu Dendam”. Penafsiran ulang terhadap sejarah selalu menarik untuk ditelusuri, melihat masalah dan kejadian dari sudut pandang yang berbeda.  Oleh karena itu kami terinspirasi untuk menampilkannya dalam bentuk teater.

19 Juni 2012

Rizki Pradana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: