Catatan Guru Drama

notes of my thoughts

Waktu itu malam sangat dingin

on June 9, 2012

Waktu itu malam sangat dingin. Hujan sepanjang hari hingga malam membuat suhu kota Jakarta menurun drastis. Saya mengendarai motor menuju rumah, jam 10 malam jalanan sudah sepi kali ini, tidak seperti biasanya, tapi saya harus segera pulang, walau perasaan tidak enak mengelayuti naluri. Jalan Rawamangun muka mencekam, hingga melewati UNJ dan rame ketika melewati Pemakaman Sunan Giri, entah ada apa.

Suasana ramai ini tidak biasa, begitu banyak orang yang berjalan di dalam pemakaman, gelapnya malam tidak terasa, seperti ada lampu sangat terang, tapi dingin masih terasa. Saya perlambat kecepatan motor saya, hanya untuk sekedar memperjelas. Sesaat melambat, sesaat kemudian semakin jelas pandangan ke arah makam, ada puluhan orang berpakaian putih, sorban, atau apalah yang berwarna putih.

Ternyata tak hanya melambatkan laju motor, tapi hingga berhenti. Sekedar ingin tahu, kenapa orang-orang ini menghadap arah yang sama. Berjalan perlahan, tak ada yang menunduk, pandangan lurus, tanpa alas kaki. Bertanya kemudian hatiku, “apa yang sedang terjadi?” tapi kepalaku tak dapat menjawabnya, karena masih mengolah dan mencari database di ingatan, tentang kejadian yang mirip dengan yang kusaksikan sekarang. Aku sedikit terpana, hingga pada akhirnya saya sadar, motor telah hilang, dan saya mengenakan pakaian putih , berjalan bersama puluhan, bahkan ratusan orang lainnya.

-1030pm-
9Juni2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: