Catatan Guru Drama

notes of my thoughts

Repost: Belenggu

on April 27, 2012

Aku terbaring di atas pembaringan ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Sejak ayah pulang dengan membawa seribu masalah yang membuat keluarga di rumah semakin terhimpit. Ibu yang sudah dalam keadaan tertekan, semakin tertekan, adikku sudah tidak sekolah. Kami sekeluarga tak punya apa-apa lagi, semuanya menjadi minus. Kepulangan ayah sangat membawa petaka. Entah dari mana dia selama ini. Tapi yang pasti dia sudah tidak kami harapkan untuk pulang. Setelah kepulangannya, Ayah tak pernah berhenti meminta uang dari ibu yang sehari-hari mencuci dan menyetrika baju orang lain.

Suatu malam akhir bulan Juli sepuluh tahun lalu.
Aku mabuk, saat melihat ayah memukuli ibu seperti orang kesetanan, rintihan dan teriakan ibu sudah tak terdengar lagi. Tangan-tangan ayah tak henti menghantam kepala, muka, dada, rahim, punggung sedangkan kakinya semakin gila menghantam perut ibu saat ibu tersungkur ke lantai tanah dalam rumah kami. Aku memang mabuk, tapi aku tak rela orang yang melahirkanku di pukuli oleh orang yang dicintainya hidup dan mati. Kuambil botol kecap yang ada di meja, lalu kuhantamkan ke arah kepala ayah, tapi tiba-tiba, kakiku tersangkut sesuatu, aku jatuh dan ayah berhasil menghindar, sedangkan botol itu nyasar ke kepala ibu yang sedang merintih tak berdaya di atas tanah. Botol itu pecah.

Adikku terbangun dari tidurnya, ayah sudah menghilang entah kemana. Tak ada yang bisa kukatakan sama sekali saat orang-orang kampung datang dan membawaku pergi entah kemana. Aku tak bisa memikirkan apa-apa saat itu selain ibu yang terbaring dengan kepala penuh darah dan kecap, disekitarnya penuh beling botol kecap. Aku tidak pernah tahu ibu masih bernafas atau tidak. Aku juga tidak pernah melihat adikku lagi.

Sudah bertahun-tahun aku terbaring di sini tanpa ada orang yang kukenal. Yang kuhapal cuma orang yang datang dan pergi mengantarkanku makanan kedalam ruangan ini. Tuhanpun sudah tidak bisa kusembah lagi. Aku sekarang tidak berdaya. Tuhan hanya bisa kusebut-sebut. Tak pernah bisa ku menyembahnya. Badanku suci atau najispun aku tidak tahu, dan aku tidak peduli lagi. Sesekali terbayang wajah ayah terkutuk itu tapi kemudian berganti dengan wajah ibu yang terakhir kali kulihat. Penuh darah, kecap dan beling botol kecap. Dan yang kuingat tentang adikku adalah airmatanya saat melihat ibu yang terhantam botol kecap, mukanya marah, tatapan matanya membuatku takut. Tapi tak ada yang bisa kuperbuat.

Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat cahaya matahari masuk menembus kamarku. Tak ada yang mengelap keringatku. Aku tidak tahu kenapa orang-orang meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Kakiku di belenggu oleh sebuah besi berkarat yang menyatu dengan tempat tidur ini. Aku dibiarkan dalam keadaan yang tidak manusiawi. Oleh manusia.

Rizki Pradana
2004-2005


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: